• AddressJl. Ki Hajar Dewantara No. 116 Iringmulyo
  • Email
  • Contact(0725) 42445-42

AKANKAH INDONESIA BISA BERTAHAN DI RAPAT FOMC

FOMC adalah dewan rapat kebijakan bank sentral Amerika Serikat. FOMC adalah istilah yang akan sering Sobat OCBC NISP dengar ketika berbicara mengenai trading forex. Singkatan dari Federal Open Market Committee ini memiliki pengaruh besar terhadap dinamika pasar forex hingga nilai mata uang.

Nilai tukar rupiah akhirnya menguat terhadap dolar AS setelah  dana asing kembali masuk ke dalam negeri pada pekan lalu, meski pekan ini masih banyak ketidakpastian  eksternal.

Menurut Refinitiv, rupiah ditutup pada Rp 15.885/US$ atau menguat 0,31persen pada perdagangan kemarin, Senin (30 Oktober 2023). Hal ini mematahkan tren pelemahan berturut-turut yang terjadi sejak 25 Oktober 2023.

Nilai tukar rupiah kemarin menguat seiring mulai masuknya aliran modal asing  ke Indonesia. Dimulai dari Pasar Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil  mulai menurun, menandakan adanya kenaikan harga obligasi karena investor mulai mencari SBN.

Berdasarkan data  Refinitiv, SBN tenor 10 tahun yang merupakan SBN benchmark turun tipis ke level 7,12persen pada sesi perdagangan kemarin. Imbal hasil tersebut lebih rendah dibandingkan Jumat lalu, yaitu 7,16persen. Investor asing di pasar keuangan domestik mencatatkan beli bersih sebesar Rp1,04 triliun yang meliputi pembelian bersih di Pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp2,18 triliun, penjualan bersih di pasar saham sebesar Rp2,57 triliun, dan pembelian bersih sebesar Rp1,44 triliun pada Surat Berharga Rupiah BI (SRBI). Ini merupakan kali pertama sejak pekan pertama September 2023 asing mencatatkan aliran modal masuk.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan pada Oktober 2023, setiap bulannya (hingga 27 Oktober), investor asing mencatatkan penarikan senilai Rp 6,37 ribu miliar di pasar modal Indonesia. Angka ini hampir 40persen lebih tinggi dibandingkan arus keluar pasar modal pada September yang  tercatat sebesar Rp 4,6 triliun.

Saat ini, pelaku pasar perlu mencermati beberapa sentimen yang akan mempengaruhi pergerakan rupiah. Sentimen pertama datang dari Bank of Japan (BoJ) yang akan mengumumkan kebijakan suku bunganya hari ini, Selasa (31 Oktober 2023).

Pasar menantikan keputusan BoJ  setelah yen Jepang terdepresiasi dan imbal hasil surat utang Jepang meningkat tajam. BoJ mempertahankan suku bunga acuan saat ini di negatif 0,1persen. Suku bunga acuan ini dipertahankan sejak tahun 2016.

Beberapa pelaku pasar sedang mempertimbangkan kemungkinan bahwa BoJ akan segera mengakhiri suku bunga ultra-rendah dan pengendalian kurva imbal hasil (YCC) pada akhir tahun 2024. Perkembangan kebijakan moneter di Jepang Jepang akan berdampak signifikan terhadap pasar keuangan Indonesia karena dengan banyaknya investor Jepang di negara tersebut, baik melalui obligasi maupun investasi langsung.

 Kemudian bank sentral AS, The Fed, akan mulai mengadakan pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal  (FOMC) mulai hari ini hingga Rabu. Mereka akan mengumumkan kebijakan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

 Pasar memperkirakan The Fed  akan terus mempertahankan suku bunga acuannya pada 5,25-5,50persen  bulan ini. Alat FedWatch  menunjukkan bahwa 98,4persen pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya. Perkiraan ini lebih rendah dibandingkan perkiraan hari sebelumnya yang mencapai 99,9persen.

 Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar juga menunggu pernyataan Ketua Fed Jerome Powell mengenai sinyal kebijakan ke depan. Pada pertemuan bulan September, The Fed mengatakan akan menaikkan suku bunga  lagi  tahun ini, meskipun kebijakannya sebagian besar akan  ditentukan oleh data ekonomi. 

Data terbaru menunjukkan bahwa perekonomian AS terus mengalami akselerasi, sehingga inflasi kemungkinan besar tidak akan melambat. Perekonomian AS masih tumbuh pesat, sebesar 4,9 persen (y/y) pada kuartal ketiga tahun 2023, tertinggi sejak kuartal keempat tahun 2022, dalam hampir dua tahun terakhir.

 Data awal PMI Manufaktur Global S&P  menunjukkan aktivitas bisnis AS meningkat menjadi 50 pada bulan Oktober 2023, naik dari 49,8 pada bulan September, PMI Flash Jasa S&P Global  juga naik menjadi 50,9 pada bulan Oktober dari 50,1 pada bulan September Inflasi AS masih stagnan sebesar 3,7 persen (year-on-year) pada September 2023, jauh dari target The Fed sekitar 2 persen.

 Selanjutnya, Biro Statistik Tiongkok (NBS) akan merilis data PMI manufaktur bulan Oktober dari negeri tirai bambu. Data ini  penting bagi pelaku pasar untuk mengetahui situasi sektor manufaktur Tiongkok di tengah perekonomian Tiongkok yang masih lesu. Aktivitas manufaktur Tiongkok berada pada wilayah ekspansi pada September 2023, mencapai posisi 50,2 setelah mengalami kontraksi pada lima bulan sebelumnya.

 Perkembangan industri manufaktur Tiongkok penting karena  menunjukkan  laju investasi dan produksi Tiongkok. Tiongkok merupakan pasar ekspor terbesar  Indonesia dengan pangsa pasar 30 persen, sehingga kegiatan produksi akan sangat berdampak pada permintaan produk Indonesia.

 

Teknikal Rupiah 

Secara teknikal dalam basis waktu per jam, volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan yang ditunjukkan dengan harga yang  berhasil menembus ke bawah moving average 20 jam dan 50 jam atau moving average diatasnya. 20 jam 50 (MA20 dan MA50).

Meski tren utama terus melemah dan saat ini harga cenderung bergerak di zona support dekat MA100 atau penutupan kemarin, Senin (30 Oktober 2023) di Rp 15.885. Posisi rupiah kemarin  berhasil menjauh dari level psikologis Rp 15.900/US$ yang kini menjadi resistance yang perlu diwaspadai kembali jika rupiah kembali melemah.

Sedangkan untuk penguatan  jangka pendek lebih lanjut, Anda bisa menguji level support yang bisa diuji jika MA100 menembus ke bawah yaitu Rp 15.840/US$, posisi ini diambil dari low candle 24 Oktober 2023.

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20231031072121-17-485026/makin-dekat-rapat-fomc-akankah-rupiah-tahan-banting